Hepatitis B Pada Kehamilan

Hepatitis B Pada Kehamilan

 

Hepatitis B termasuk ke dalam infeksi liver atau hati yang paling sering terjadi. Virus hepatitis B yang masuk ke tubuh manusia akan menyerang sel-sel liver dan menyebabkan kegagalan liver, sirosis atau kanker hati. Seseorang dengan infeksi akut virus hepatitis B memiliki gejala seperti kehilangan nafsu makan, badan terasa lemah, nyeri ulu hati, mual, muntah, demam, kencing tampak seperti air teh pekat dan mata terlihat kekuningan. Diagnosis pasti penderita mengidap hepatitis B bila ditemukan HBsAg positif dalam pemeriksaan darahnya.

Hepatitis B Pada Kehamilan

Hepatitis B Pada Kehamilan

Hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh, misalnya sperma dan cairan vagina. Virus penyakit ini jauh lebih mudah ditularkan dibandingkan HIV. Beberapa cara penularannya adalah:

  • Kontak seksual, misalnya berganti-ganti pasangan dan berhubungan seks tanpa alat pengaman.
  • Berbagi jarum suntik. Misalnya menggunakan alat suntik yang sudah terkontaminasi darah penderita hepatitis B.
  • Kontak dengan jarum suntik secara tidak disengaja. Misalnya petugas kesehatan (paramedis) yang sering berurusan dengan darah manusia.
  • Ibu dan bayi. Ibu yang sedang hamil dapat menularkan penyakit ini pada bayinya saat persalinan.

Pada penderita hepatitis B, kehamilan tidak akan memperberat infeksi virus hepatitis, akan tetapi jika terjadi infeksi akut pada kehamilan, terutama trimester ke III (akhir) kehamilan, maka dapat mengakibatkan terjadinya hepatitis fulminan yang dapat menimbulkan resiko kematian yang tinggi bagi ibu dan bayi.

Adapun ibu yang menderita hepatitis B kronis tetap bisa mengandung calon bayinya. Namun yang terpenting ialah titer virus hepatitis B yang terkontrol. Penularan virus dari ibu ke bayi memang dapat terjadi. Biasanya penularan terjadi melalui plasenta, kontaminasi dengan darah dan kotoran ibu ketika persalinan, maupun kontak langsung ibu dengan bayi setelah melahirkan.

Jika seorang ibu hamil dengan hepatitis B, umumnya infeksi tersebut tidak menimbulkan komplikasi terhadap selama proses kehamilannya. Segera setelah melahirkan, bayi harus mendapatkan vaksinasi hepatitis B paling efektif sebelum 12 jam setelah persalinan. Vaksinasi pada bayi ini untuk mencegah berkembangnya lebih lanjut virus di dalam tubuh bayi baru lahir. dengan pemberian vaksinasi dapat mengurasngi risiko infeksi pada bayi sampai 95%. Setelah bayi berusia enam bulan, dianjurkann untuk mendapatkan kembali satu paket vaksinasi guna memperkuat sistem imunitas terhadap Hepatitis B.

Bayi yang dilahirkan sebaiknya juga mendapatkan ASI dari ibunya. Apalagi jika bayi sudah mendapatkan vaksinasi, maka cukup aman bagi bayi untuk menyusui ASI eksklusif dari ibunya. Hal ini penting karena di dalam ASI banyak terdapat kandungan zat gizi dan terutama protein yang dapat melindungi bayi dari berbagai macam infeksi.

Pencegahan Penularan Hepatitis B Pada Kehamilan

Pencegahan yang bisa dilakukan untuk menekan terjadinya hepatitis virus pada kehamilan ialah dengan cara:

  • Deteksi Sebelum Terlambat

Deteksi disarankan untuk mengetahui apa si ibu terinfeksi atau tidak melalui pemeriksaan hepatitis B pada trimester pertama.

  • Skrining

Pilihan jika si ibu sudah positif memiliki virus hepatitis B. Hasil skrining sangat menentukan tindakan selanjutnya bagi ibu apabila diperlukan pengobatan. Dalam pengobatan ada dua macam tujuan yaitu pengobatan dengan maksud untuk mengobati penyakit yang timbul dari virus tersebut, kedua adalah pengobatan dengan menekan virus tersebut agar tidak menimbulkan penyakit.

  • Fibroscan

Alat canggih terbaru di Indonesia yang diproduksi oleh Perancis sebagai pemeriksaan kerusakan jaringan pada hati. Alat ini bisa menjadi penentu terapi pertama pada pasien hepatitis B dan aman bagi ibu hamil.

  • Pencegahan Virus Pada Bayi

Masa kelahiran sebagai titik krusial dalam masa penularan virus dari ibu. Bayi yang baru lahir segera diberikan suntikan hepatitis B Imuglobulin sebagai zat kekebalan anti hepatitis B. Rino menyarankan idealnya pemberian suntikan maksimal 12 jam setelah kelahiran dan pemberian imunisasi sebanyak 3 kali, pada 0 bulan, 1 bulan atau 5 bulan. Karena itu diperlukan penanganan profesional dan akurat dari rumah sakit untuk menyelamatkan bayi.

  • Kontrol Pasca Melahirkan

Setelah melahirkan, kontrol kembali untuk memonitor jumlah keadaan virus dalam tubuh apabila bisa diobati atau tidak. Dapat disembuhkan secara total, namun tergantung dari jumlah, tipe virus serta faktor lainnya.

Itulah beberapa upaya pencegahan yang bisa dilakukan supaya serangan virus hepatitis B pada kehamilan bisa diminimalisir. Upaya pencegahan lain juga perlu dilakukan dengan cara menjaga kebersihan baik di dalam rumah maupun lingkungan sekitar karena virus apapun akan dengan mudah berkembangbiak di tempat yang kotor atau tidak bersih.

Hepatitis B Pada Kehamilan

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*