Hepatitis C Menular

Hepatitis C Menular

 

Hepatitis C adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang hati. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini dapat memicu infeksi dan inflamasi pada hati. Hepatitis C sering disebut sebagai “silent disease” karena biasanya tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun. Namun, dapat mengakibatkan kerusakan serius pada hati. Sehingga, selain deteksi kanker dini, mendeteksi timbulnya gejala hepatitis C juga perlu dilakukan.

Virus hepatitis C mudah sekali menular, antara lain melalui kontak darah dan dari penggunaan jarum suntik yang tidak steril, alat tato, berganti pasangan seksual, serta pemakaian bersama alat-alat perawatan tubuh seperti silet cukur atau sikat gigi.

Hepatitis C Menular

Hepatitis C Menular

Meski demikian, orang yang tertular hepatitis C sering tidak menyadarinya karena penyakit ini pada tahap awal tidak menimbulkan gejala. Kondisi ini sebenarnya bisa berbahaya karena orang tersebut bisa menularkan penyakitnya ke orang lain.

Virus hepatitis C tidak akan menular melalui air susu ibu, makanan, minuman, atau bersentuhan seperti bersalaman atau berpelukan.

Gejala Hepatitis C

Masa inkubasi (waktu sejak virus pertama masuk sampai gejala muncul) untuk hepatitis C adalah dua minggu hingga enam bulan. Infeksi pada enam bulan pertama ini dikenal dengan hepatitis C akut. Meski ada gejala hepatitis C yang muncul, indikasinya mirip dengan penyakit lain sehingga sulit disadari.

Hanya sekitar 25 persen penderita hepatitis C akut yang mengalami gejala. Beberapa indikasinya meliputi:

  • Nyeri otot dan sendi.
  • Tidak nafsu makan.
  • Mual dan muntah.
  • Sakit perut.
  • Sakit kuning (dialami oleh sekitar 20 persen penderita).

Sistem kekebalan tubuh penderita hepatitis C akut terkadang mampu membunuh virus tanpa penanganan khusus sehingga penderita akan sembuh. Hal ini terjadi pada sekitar 25 persen penderitanya.

Penyebab Hepatitis C Menular

Virus hepatitis C berkembang dalam darah. Karena itu, kita akan tertular hepatitis C jika mengalami kontak dengan darah penderita. Virus ini juga dapat bertahan di luar tubuh, misalnya dalam ceceran darah, selama maksimal empat hari pada suhu ruangan.

Penularan hepatitis C paling umum terjadi melalui jarum suntik, terutama di antara para pengguna obat-obatan terlarang yang berbagi jarum suntik. Di samping itu, ada beberapa kelompok orang yang juga berisiko tinggi tertular penyakit ini. Di antaranya adalah:

  • Orang yang berbagi penggunaan barang-barang pribadi yang mungkin terkontaminasi darah, seperti gunting kuku atau alat cukur.
  • Pekerja medis di rumah sakit yang sering menangani darah atau cairan tubuh penderita.
  • Orang yang berhubungan seks tanpa alat pengaman.
  • Pasien yang menjalani prosedur medis di rumah sakit dengan peralatan yang tidak steril.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV.
  • Orang yang menjalani transfusi darah.
  • Orang yang menjalani proses tato atau tindik di tempat yang tidak memiliki peralatan steril.
  • Bayi dalam kandungan ibu hamil yang terinfeksi.

Penderita hepatitis C juga lebih berisiko untuk terkena hepatitis jenis lain. Dokter umumnya menganjurkan vaksinasi untuk mencegah hepatitis A dan B. Jenis vaksin lain yang terkadang juga disarankan adalah vaksin flu dan infeksi pneumokokus.

Untuk mendeteksi apakah kita terinfeksi hepatitis C atau tidak, ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan. Pertama adalah pemeriksaan antibodi anti-HVC yang menunjukkan adanya virus hepatitis C. Jika hasil tes antibodi anti-HVC positif, diperlukan tes lanjutan, yaitu tes HCV RNA untuk memastikan adanya infeksi VHC yang masih berlangsung.

Jika terdiagnosis infeksi hepatitis C, maka akan diberikan pengobatan anti-viral dengan tingkat kesembuhan antara 75-100 persen.

Hepatitis C Menular

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*